BIN Celometan? Blog I-I Celometan? » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, May 10, 2017

BIN Celometan? Blog I-I Celometan?

Ketika saya dan beberapa jaring Blog I-I masih menjadi kadet calon agen puluhan tahun silam, ada satu prinsip dasar intelijen yang selalu diingatkan oleh instruktur guru intel yakni "jangan celometan" atau banyak bicara tentang pekerjaan, identitas, maupun tentang posisi/sikap tentang suatu dinamika sosial maupun politik. Kemudian hal itu juga kami terima dari pelatihan dengan CIA dan Mossad, dimana prinsip need to know adalah kunci sukses sebuah operasi. Yakni dengan memahami sensitivitas dan dampak dari suatu informasi yang diketahui oleh banyak orang. Bahkan untuk propaganda penciptaan opini yang memerlukan penyampaian informasi secara tepat dan efektif, intel tidak pernah melakukan propaganda atas namanya sendiri apalagi atas nama lembaga intel.

Mengapa sekarang saya jadi celometan? Hal ini tidak lain tidak bukan karena keprihatinan yang sangat mendalam terhadap sikap sejumlah pimpinan intelijen paska reformasi yang terlalu banyak bicara sehingga dapat dianalisa baik oleh pihak asing maupun kekuatan politik dalam negeri dan bahkan oleh masyarakat umum. Sebut saja misalnya ZA Maulani, Hendropriyono, Sutanto. Marciano, Sutiyoso dan terakhir Budi Gunawan tampaknya cukup senang bicara kepada publik. Hanya Arie Kumaat dan Syamsir Siregar yang relatif hemat bicara dibandingkan dengan Kepala Intel lainnya.

Bagaimana dengan ratusan artikel Blog I-I, apakah hal itu juga bukan celometan? Iya sedikit banyak dapat dinilai celometan juga, namun perhatian dengan seksama makna, maksud dan tujuan serta bagaimana anda memahaminya setelah membaca artikel Blog I-I. Semua yang disampaikan Blog I-I adalah terukurdan obyekfif serta tidak dapat diasosiasikan dengan pemerintah maupun kekuatan politik tertentu, artinya independen dan obyektif. Kemudian dengan sikap kritis memiliki tujuan memberikan alternatif pemikiran, koreksi, serta mengandung peringatan dan saran. Karena Blog I-I tidak beraosiasi dengan kelompok kekuatan manapun, maka ada sebagai pembaca akan menemukan catatan-catatan yang relatif obyektif tanpa muatan politik tertentu.

Berbeda dengan celometan Kepala BIN yang akan dengan segera mencerminkan sebuah posisi tertentu. Ambil saja contoh pernyataan tertulis Kepala BIN tentang pembubaran HTI. Dalam prinsip intelijen, apa yang dilakukan oleh Budi Gunawan setidaknya melanggar beberapa prinsip dasar intelijen, sbb:
  1. Pernyataan tertulis BIN merupakan bukti otentik sikap BIN yang telah melalui proses pengkajian analis BIN yang seharusnya tidak perlu diungkapkan kepada publik. Walaupun yang disampaikan mungkin benar demi keutuhan negara dan kepentingan nasional, namun penilaian bahwa "eksistensi HTI tidak berlandasan dan bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945 sehingga menimbulkan keresahan dalam masyarakat. ancamannya kepentingan nasional" sesungguhnya bersifat rahasia. Akan lebih baik apabila, pernyataan Kepala BIN tersebut lebih disebabkan pertanyaan wartawan dan disampaikan secara spontan dan tidak tertulis. 
  2. Terjadi redundancy (pengulangan yang tidak perlu). Benar bahwa Kepala BIN memiliki hak penuh untuk bicara kepada publik atas nama organisasi dan menjadi satu-satunya sumber berita terkait dengan organisasi intelijen, pandangan dan sikapnya. Ancaman nasional atau ancaman terhadap kepentingan nasional yang dilabelkan kepada HTI merupakan hasil kajian serius lengkap dan mendalam karena telah menghasilkan rekomendasi pembubaran. Pernyataan resmi pemerintah tentang pembubaran HTI sudah cukup dari Kemenkopolhukam Wiranto karena memang posisinya yang mendapatkan mandat dari Presiden Jokowi untuk mengkaji ormas anti-Pancasila. Seyogyanya jajaran aparatur keamanan lainnya seperti TNI, Polri dan BIN tidak perlu "memperkuat" pernyataan Wiranto apalagi dengan pernyataan tertulis. Seolah-olah dirasa perlu menciptakan opini publik yang kuat tentang HTI yang menjadi ancaman bagi kepentingan nasional. Hal ini sebenarnya tidak melanggar prinsip propaganda, namun lebih melanggar prinsip need to know. Dimana sekarang masyarakat luas menjadi tahu sikap BIN. 
  3. Sebuah cara yang lebih cerdas apabila BIN ingin melakuka cipta kondisi dan cipta opini publik adalah dengan menggunakan pengamat, akademisi, dan tokoh-tokoh nasional lainnya agar mengeluarkan pernyataan yang mendukung kebijakan pembubaran HTI. Jadi jangan BIN sendiri yang mengucapkannya. Mengapa BIN sebaiknya jangan bicara? Karena hal itu merusak aura misteri dan kerahasiaan intelijen. Dalam teori propaganda, akan lebih efektif apabila masyarakat dipengaruhi bukan oleh orang intelijen apalagi Kepala Intel. Salah satu teknik propaganda intel yang berpengaruh adalah appeal of authority yakni pernyataan yang disampaikan oleh pihak yang memiliki otoritas. Dalam kasus pembubaran HTI, apakah tepat untuk menjadikan intelijen sebagai pihak yang memiliki otoritas dalam pembubaran HTI? Kalo kata anak sekarang....ya pastilah intel ngomongnya begitu!
  4. Setelah membaca dan mengetahui sikap resmi BIN tentang pembubaran HTI, masyarakat tentu akan memiliki persepsi yang jelas bahkan berspekulasi BIN adalah otak dari pembubaran HTI. Apakah intel lantas dapat berbangga diri dengan karya analisanya dan sikapnya? TIDAK, intel seharusnya bekerja tanpa diketahui publik namun dampaknya terasa di masyarakat. Hal ini kembali pada prinsip dasar kerahasiaan (secrecy) dimana meskipun Intel bekerja yang paling keras dan paling banyak berkontribusi, namun tidak perlu intel bicara ke publik.
Demikian, semoga bermanfaat
Salam Intelijen
Dharma Bhakti

Labels: , , , ,

Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank